Home » TRADISI  »  Serenan
Serenan
Serenan
Serenan berasal dari bahasa jawa yaitu seren yang sama artinya dengan lengser, atau turun dari kedudukan yang tinggi, kembali kepada keadaan semula. Para wong kraman atau wong kemit yang bertugas ngormeni kompleks pertamanan Gunung Sembung, melakukan serenan ini setelah ia selesai bertugas selama 15 hari, lalu menyerahkan hak, kewajiban dan wewenang mereka kepada wong kemit yang hendak berdinas menggantikan mereka. Di akhir tugas piketnya ini, wong kemit, setelah sholat Ashar beziarah, membacakan tahlilan di Gedong Jinem dimana Sunan Gunung Jati dimakamkan. Mereka melakukan tahlilan sebagai pamitan kondur sangking Pesambangan.
Setelah berziarah ke makam Sunan Gunung Jati, bersama-sama mereka melakukan "curak" yaitu menabur uang recehan kepada anak-anak yang telah menanti dan bergerombol di sekitar Paseban Soko, sebagai ungkapan rasa syukur telah dapat menyelesaikan tugas dengan baik. Merekapun melakukan hal yang sama di halaman rumah masing-masing. Bagi anak-anak, ini adalah even yang penting dan berkesan. Dimana mereka akan bertaruh untuk bisa merebut dan mengumpulkan "curakan" dari wong Kemit ini sebanyak-banyaknya. Bagi mereka, ngadang curak ke rumah Wong Kemit yang habis seren itu dinamakan "mecing". Bagi Wong Kemit, hal ini merupakan sari ajaran Sidkah atau zakat penghasilan, bahwa sebagian dari rizki yang kita peroleh adalah hak fakir-miskin.
Sebuah tradisi positif untuk menjalin rasa kasih dan kepedulian untuk saling berbagi dari mereka yang berkecukupann terhadap saudaranya yang kebetulan dalam keadaan membutuhkan.
Diambil seperlunya dari buku "Mengaji Pada Sunan Gunung Jati" karya Abdul Ghofar Abu Nidalloh

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *