Home » TRADISI  »  Anomali Nadran Gunung Jati
Anomali Nadran Gunung Jati
Anomali Nadran Gunung Jati
A. Pendahuluan

Hampir setiap tahun masyarakat Cirebon khususnya masyarakat petani dan nelayan yang tinggal di Kecamatan Cirebon Utara (sekarang Kecamatan Gunungjati dan Suranenggala) selalu mengadakan upacara Nadranan. Upacara Nadranan berlangsung tiga hari tiga malam.
Puncak dari serangkaian upacara yang berlangsung tiga hari tiga malam tersebut terjadi pada acara-acara sebagai berikut :

Ider – Ideran atau Helaran yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat Cirebon, mulai dari Sultan, Kerabat Keraton, Wong Kraman, seniman, budayawan, pedagang, nelayan dan petani.

Ider – ideran nadran Gunung Jati berbentuk ider naga, yaitu pola ider-ideran yang berlawan dengan jarum jam.

Lelumban atau lumbanan, adalah acara lelumban berangkat dari kanal condong menuju Muarajati (Bengawan Celangcang). Dari awal sampai akhir perjalanan lelumban ada beberapa stasiun-stasiun pemberhentian perahu antara lain adalah:

- Situs Nyi Rinjing (Condong)

- Situs Ki Alap-alap (Condong)

- Situs Ki Pandu (Muara)

- Situs Ki Ilir (Muara)

Ruatan Sedekah Bumi di Bangsal Peringgitan Astana Gunungjati
Ruatan Budug Basu ditepi Kali Condong.

Di malam harinya seluruh jenis tontonan atau hiburan ditampilkan didepan alun-alun Astana Nurgiri Ciptarengga. Jenis-jenis tontonan tersebut adalah wayang kulit, wayang cepak, topeng, sandiwara, tarling dan organ tunggal. Rombongan kesenian tersebut tampil di acara Nadran ini tanpa diberi bayaran. Mereka melakukan semua ini demi atur bakti kepada Sunan Gunung Jati dan leluhur-leluhur pendiri Cirebon. Mereka hanya diberi konsumsi oleh para juru rawat makam Sunan Gunung Jati. Walaupun tidak dibayar namun para rombongan kesenian ini melakukannya dengan penuh keikhlasan. Mereka mengadakan pagelaran dihadapan Astana Nurgiri Ciptarengga ini untuk melakukan nadzar sebagai rasa syukur kepada Allah SWT atas dilimpahkannya rejeki kepada mereka. Begitu pula dengan rombongan pecara-pecara yang diarak dalam ider-ideran. Pecara ini dibuat oleh warga dari masing-masing RW (Rukun Warga) yang tinggal di dekat Kecamatan Cirebon utara. Biaya yang dihabiskan setiap RW dalam membuat pecara ini jumlahnya relatif. Ada yang menghabiskan biaya 4 juta, 7 juta bahkan ada suatu RW yang menghabiskan biaya hingga 12 juta lebih. Biaya yang tidak sebanding jika upaya yang mereka lakukan kalau hanya untuk mendapat hadiah juara satu yang hanya berupa seekor kambing.

Upacara Nadranan telah mengalami dinamika yang cukup panjang sepanjang usia Cirebon yang telah memasuki enam abad lebih. Kini Upacara Nadranan tidak hanya milik masyarakat Kecamatan Gunung Jati dan Suranenggala saja, namun telah menjadi milik seluruh masyarakat Cirebon dari seluruh lapisan masyarakat.

B. Asal-usul Upacara Nadran

Banyak yang tidak tahu mengenai asal-usul upacara Nadran di Gunung Jati. Sebetulnya penggagas dari upacara Nadran tersebut adalah Ki Ageng Tapa atau Ki Jumajan Jati sang Juru Labuan Muara Jati yang mensyukuri putrinya telah menamatkan pendidikan pesantrennya di Karawang. Iring-iringan ider-ideran di mulai dari pesantren Pasambangan Jati yang di asuh oleh Syeikh Nurjati. Pada waktu itu Pasambangan Jati selain sebagai pusat Pendidikan Islam juga berfungsi sebagai pusat perdagangan. Pedagang-pedagang dari pedalaman datang melalui jalur darat dan jalur sungai bertemu di pusat perputaran ekonomi di Pasambangan Jati sebagaimana di beritakan oleh naskah Purwaka eng Giri Caruban Nagari. Kala Samana Sinuka Sembung lawan ngamparan jati huwus mangadeg lawas. Pasambangan Dukuh wastanya //pratidina janmapadha ikang doh-tinuku samya atekeng engke / i sedheng parireran kang prahwa muhara jati dumudi akrak / mapan ri nanawidha kang palwa nintyasa mandeg enkene // pantura ning yata sakeng cina nagari / nyarab / parsi / indiya/ Malaka / tumasik / pase(h) / jawa wetan Madura lawan Palembang / (Acha, 1986, 121-122).

Pada syukuran Ki Ageng Tapa yang merasa bahagia atas keberhasilan putrinya mendalami agama Islam kepada Syeikh Kuro di dukung pula oleh Syeikh Nurjati dan seluruh masyarakat pedagang nelayan dan petani yang merasa berterima kasih kepada Ki Ageng Tapa karena mereka diberi tempat untuk memasarkan hasil mata pencahariannya di pasar Pasambangan Jati. Ider-ideran juga memiliki makna untuk syiar Islam kepada masyarakat Cirebon yang pada saat itu masih banyak yang belum memeluk agama Islam. Dalam ider-ideran yang di arak menuju kediaman Ki Ageng Tapa di desa Singhapura (sekarang Sinarbaya) tidak hanya di ikuti oleh bangsa manusia tetapi juga diikuti oleh bangsa Jin, Peri, Setan, Siluman dan Sileman Merakayangan. Wujud mereka macam-macam, ada yang berupa hewan darat, hewan laut, binatang melata dan makhluk prabangsa. Wujud mereka ada yang berupa buaya, ular naga, bulus, ikan, macan, gajah, kerbau, kuda dan lain-lain. Selain makhluk-makhluk dari berbagai jenis yang menghuni Cirebon mereka juga ada yang datang dari negeri jin dan bangsa alus lainnya, antara lain dari Tanjung Karoban (alas roban) yang berbentuk manusia yang berkulit hitam legam. Dari Ujung Krangkeng, Ujung Kapetakan, Ujung Pekik yang berupa buaya dan hewan laut yang menakutkan, juga ada yang datang dari Tajung Bang (Ujung Gebang) yang berupa siluman dengan wujud hewan darat.

Menurut Hasanudin, kliwon dari Desa Martasinga, mengatakan bahwa ‘peran serta bangsa merkayangan dan bangsa alus lainnya dalam ider-ideran Keraton Singapura ini adalah karena mereka merasa terayomi dengan kedatangan Islam yang dibawa oleh Syeikh Nurjati dan Syeikh Kuro, apalagi Sekar Kedaton Keraton Singapura telah memeluk agama Islam. Islam sebagai agama rahmatan lil alamin telah dirasakan juga oleh bangsa gaib ini.’

Ider-ideran Keraton Singapura yang berbentuk ider naga ini dimulai dari Pasambangan Jati atau Bukit Amparan Jati menuju Singhapura (sekarang Desa Sirnabaya). Selama ider-ideran berjalan menuju arah utara, kelompok manusia dari pemukiman-pemukiman yang dilewati langsung ikut bergabung dengan rombongan begitu pula dengan bangsa siluman yang keluar dari kampung dan hutan yang dilewati juga ikut bergabung. Tidak ketinggalan juga bangsa siluman yang datang lewat Kali Pekik, Terusan Condong, Bengawan Ciliru (Bondet), Bengawan Celangcang dan Bengawan Kapetakan ikut bergabung. Ider-ideran ini dimulai setelah dhuhur dan sampai ke Singhapura menjelang magrib. Pada waktu magrib ider-ideran ini melakukan sholat magrib ditempat pemberhentian mereka. Lampu penerangan yang digunakan adalah obor dan damar sewu.

Setelah berakhir di Singhapura mereka diterima oleh Ki Ageng Tapa dan Sekar Kedaton Singhapura yaitu Ratna Subang Kranjang atau Dewi Kencana Larang.

Pada waktu Pangeran Walangsungsang menjadi Tumenggung Cirebon dengan gelar Tumenggung Sri Mangana, ider-ideran ini keraton Singhapura ini tetap di laksanakan. Pangeran Cakrabuana tidak mengubah sedikitpun bentuk ider-ideran ini. Pola ider naga yang berbentuk berlawanan dengan arah jarum jam juga tetap di laksanakan karena tujuan dari ider-ideran ini menuju Keratuan Singhapura. Walaupun Ki Ageng Tapa dan Ratna Subang Kranjang ( Ibu dari Pangeran Cakrabuana ) telah wafat, namun tidak mengubah tempat tujuan dari ider – ideran tersebut, Mande peninggalan Keratuan Singhapura yang telah berubah menjadi situs tetap di hormati dan dikunjungi.

Pada masa Pangeran Cakrabuana memerintah sebagai Tumenggung Cirebon upacara ini di pimpin oleh pangeran Cakrabuana sendiri. Perbedaan corak pemerintah Cirebon yang telah menjadi pemerintah Islam, Walaupun masih dibawah proktetorat Pajajaran yang masih menganut agama Kesangyangan, Hindu, Budha. Tidak mengubah kebijakan pangeran Cakrabuana untuk melaksanakan upacara ider – ideran Kraton Singhapura ini. Upacara ider – ideran ini bahkan didukung oleh parade prajurit yang telah dibentuk oleh pangeran Cakrabuana, jenis – jenis prajurit bentukan dari pangeran Cakrabuana adalah Pasukan Badak (Pasukan dari para pemilik sikep ) Pasukan Suratoni ( pasukan sukarelawan dari para petani ) dan Pasukan Baksa ( Babak Yasa ).

Pada tahun 1404 Saka atau tahun 1482 Masehi Pangeran Cakrabuana mundur dari jabatannya sebagai Tumenggung Cirebon, Kemudian pangeran Cakrabuana melantik keponakan sekaligus menantunya yaitu Syeikh Syarif Hidayatullah menjadi Tumenggung Cirebon ke 2, setelah dilantik menjadi Tumenggung Cirebon ke 2 langkah politik yang pertama dilakukan oleh Syeikh Syarif Hidayatullah adalah memutuskan hubungan dengan negara pelindung Cirebon, Yaitu Pajajaran dengan tidak mengirim upeti yang berupa garam dan terasi, Langkah ini didukung oleh Pangeran Cakrabuana dan Sunan Ampeldenta sebagai ketua Dewan Walisanga, Pangeran Cakrabuana menobatkan Syeikh Syarif Hidayatullah dengan pakar Sunan Jati Purbawisesa dan Sunan Ampeldenta memberi gelar Sunan Cirebon Sinurat Sunda, Namun gelar yang populer kemudian adalah Sunan Gunung Jati.

Pada masa pemerintahan Sunan Gunung Jati, ketika Cirebon sudah menjadi negara yang merdeka dan berdaulat penuh. Ider- ideran Keratuan Singhapura, Lelumbon dan Ngunjung serta sedekah bumi di Bukit Amparan Jati dan Persambangan Jati tetap dilaksanakan, Upacara tersebut diatas yang terdiri dari beberapa rangkaian ritual kemudian lebih dikenal dengan upacara Nadran Gunung Jati, Pecara- pecara dibuat sebagai bentuk atur bekti kepada Sunan Gunung Jati. Begitu juga hiburan – hiburan yang disajikan dalam upacara Nadran tersebut Khusus untuk Lelumbon, Ritual diadakan dialiran Kanal Condong menuju pelabuhan Muara Jati ( Bengawan Celangcang ), Stasiun – stasiun pemberhentiannya adalah, Nyi Buyut Rinjing, Ki Buyut Alap – Alap yang dikuburkan ditepi Kanal Condong, kemudian menyusuri pantai laut jawa dan dilanjutkan memasuki aliran sungai Bengawan Celangcang, Dipelabuhan Muara Jati ini stasiun pemberhentiannya adalah Ki Buyut Ilir dan Ki Buyut Pandu. Rombongan Lumbanan ini berhenti untuk melakukan ziarah berdoa bersama kemudian setelah selesai makan bersama. Menurut Hasanudin, kliwon desa Mertasinga, Ketika rombongan Lumbanan itu sedang makan bangsa siluman yang ada dilaut datang dan menghadap Ki Ageng Tapa mereka bertapa, “ Tuan Tolong barokahnya dibagikan kepada kami juga “, Kemudian Ki Ageng Tapa Menjawab, “Baik, Nanti tahun depan kami akan bawakan makanan untuk kalian”, Janji Ki Ageng Tapa untuk memberikan makanan pada tahun depan disebut Nadzar, Dari kata Nadzar inilah kata Nadranan terbentuk, Kemudian pada tahun depannya Nadzar Ki Ageng Tapa dilaksanakan dengan menyembelih seekor kerbau, Daging dari badan kerbau dimakan untuk manusia, Sedangkan kepalanya untuk bangsa siluman yang tinggal di laut. Sikap Ki Ageng Tapa ini bukan untuk memberi persembahan kepada bangsa halus sebagai tunduk kepada bangsa mereka, Tetapi sebagai bentuk keperdulian sebagai sesama mahluk Tuhan juga sebagai sikap seorang pemimpin yang bertanggung jawab untuk memelihara keseimbangan lingkungan hidup di darat maupun di laut, Sikap ini sebagai perwujudan bahwa Islam Rahmatan lil alamin.

Sikap Ki Ageng Tapa yang perduli terhadap Keseimbangan ekosistem lingkungan hidup ini kemudian dilanjutkan oleh para turunannya, mulai dari Pangeran Cakrabuana, Sunan Gunung Jati dan Sultan – Sultan yang memerintah kerajaan Cirebon. Pada masa pemerintah Sunan Gunung Jati, Nadran merupakan ritual kenegaraan terbesar setelah muludan, moment Nadran dimanfaatkan oleh Sunan Gunung Jati untuk mengajarkan rasa bersyukur kepada Allah subhanahu wata’ala yang telah memberikan rezeki baik dari hasil bumi maupun hasil laut, Persembahan rasa syukur diwujudkan oleh rakyat Cirebon dalam bentuk persembahan hasil bumi yang terbaik mereka, Seperti Padi, Palawija, Buah – buahan dan Sayur – sayuran untuk doa selamatan, Begitu juga dengan para nelayan yang mempersembahkan hasil tangkapan lautnya yang berupa Ikan, Udang, Kerang, Rajungan, Cumi – cumi dan yang lainnya.

Selain untuk menumbuhkan rasa syukur kepada Allah, Nadran juga digunakan untuk konsolidasi jajaran pemerintahan dan prajurit kerajaan Cirebon yang sudah terbentuk dengan sempurna pada waktu itu, adapun jenis – jenis pasukan yang sudah dibentuk pada masa Sunan Gunung Jati adalah :

- Pasukan Suratani ( pasukan dari para petani )

- Pasukan Badak ( pasukan yang diambil dari pemilik sikap )

- Pasukan Jagabaya ( pasukan keamanan dalam negeri )

- Pasukan Jagasatru ( pasukan penangkal serangan dari luar )

- Pasukan Bhayangkara ( Pasukan anti huru hara )

- Pasukan Kraman atau Wong Kraman ( pasukan pengawal raja )

- Pasukan Yudaka Bugis ( pasukan telik sandi dari bugis )

- Psukan Limbur Kencana ( pasukan pengempuran )

- Pasukan Windu Jaya ( pasukan berkuda )

- Pasukan Jalasutra ( pasukan pengacau lawan )

- Pasukan Suranenggala ( pasukan penggempur )

- Pasukan Sarwajala ( pasukan angkatan laut )

( Ki Kartani, Historiografi Cirebon )

Mengingat nadranan adalah merupakan salah satu ritual rakyat Cirebon yang didukung oleh pemerintah kerajaan Cirebon pada masa itu, kemungkinan besar gelar para pasukan juga dilibatkan, moment ini sangat bermanfaat bagi Sunan Gunung Jati untuk mengetahui kondisi kekuatan Cirebon pada masa itu, Kemungkinan besar juga keterlibatan langsung Sunan Gunung Jati dalam memimpin upacara itu sangat besar, Sebab enam abad lebih sepeninggal Suanan Gunung Jati, Masyarakat Cirebon tetap menghargai beliau, Masyarakat Cirebon mempersembahkan Nadran sebagai bentuk rasa syukur atas limpahan rezeki yang diberikan Allah SubhanaWata’ala dan sebagai bentuk atur bekti kepada leluhur.

C. Anomali Upacara Nadran

Setelah sekian abad berjalan, dari jaman Hindu, jaman transisi Hindu-Islam, jaman Kasunanan, jaman Kepanembahan, jaman Kesultanan, jaman Kemerdekaan, jaman Orde Lama dan Orde Baru upacara nadran ini tidak mengalami perubahan yang substansial. Namun menjelang di akhir penghujung pemerintahan orde baru (1998 ) terjadi sebuah insiden yang melibatkan tawuran antara remaja dusun Sembung, Sirnabaya, Parit dan Kalisapu yang menodai jalannya upacara ider-ideran tersebut. Kemudian pihak polres Kecamatan Cirebon Utara melarang upacara tersebut dilaksanakan. Sekitar 2 tahun upacara itu tidak dilaksanakan. Kemudian pada tahun 2005 Upacara nadran dilaksanakan kembali. Namun arah ider-ideran dirubah, tidak lagi berbentuk ider naga, namun arah putarannya ke arah jarum jam, yaitu menuju ke arah selatan hingga berakhir di depan Karesidenan Cirebon (gedung negara).

Kebijakan perubahan arah ider-ideran ini tentu saja menimbulkan dampak yang tidak kecil. Konsekuensi positif dan negatif dari adanya perubahan arah ider-ideran ini tidak bisa terhindarkan lagi. Dampak positifnya adalah:

  • Faktor keamanan lebih kondusif
  • Antusiasme masyarakat makin besar sebab secara tidak langsung masyarakat Cirebon yang tinggal di kotamadya Cirebon juga ikut menyaksikan. Bahkan Kabid Pariwisata Kota Cirebon Drs. Chaerul Salam, M. Hum memandang upacara Nadran ini sebagai event yang bisa dikembangkan ke arah event pariwisata kota juga dengan melanjutkan ider-ideran ini untuk melewati kawasan kota.
  • Secara ekonomis kegiatan ini makin meningkatkan omzet pedagang kecil yang berjualan disekitar wilayah event itu di gelar.
  • Potensi Pariwisata; Dini Rosmalia, MT,ST seorang kandidat Doktor dari ITB melihat potensi wisata Nadran ini cukup tercengang, “Upacara Nadran ini bisa lebih dahsyat dari Upacara Ngaben di Bali”, katanya. Namun beliau menyayangkan peran pemda yang belum maksimal dalam mengemas atraksi wisata ini. Kinilah saatnya kewajiban Dinas Pariwisata untuk dapat menata event Nadran ini menjadi lebih baik.

Selain dampak positif tentu ada dampak negatifnya. Adapun dampak negatifnya adalah:

  • Nilai-nilai sejarah yang terkandung dalam upacara Nadran ini menjadi terputus dari generasi sebelumnya. R.Udin Khaerudin, MA, Camat dari kecamatan Losari, mengatakan bahwa, “Kita harus menyambungkan kembali benang merah sejarah yang telah terputus dengan mengembalikan arah ider-ideran ini ke arah semula, yaitu arah yang menuju ke utara ke arah lokasi Keratuan Singhapura pernah berdiri. Kita tidak boleh menghilangkan jejak-jejak sejarah leluhur kita”, katanya lagi.
  • Hilangnya spirit dari substansi acara Nadran, khususnya ider-ideran. P. Panjijaya Prawirakusuma, sesepuh wargi keturunan P. Suryajanegara dan ketua masyarakat adat nelayan Lawang Gede, mengatakan bahwa “dahulu ketika ider-ideran melewati Mertasinga, waktu sudah menjelang petang sehingga para peserta ider-ideran ini berhenti untuk sholat Maghrib. Setelah itu ider-ideran di lanjutkan dengan menyalakan obor dan lampu penerangan lainnya. Menurut P. Panji lagi, upacara Nadran identik dengan syiar Islam. Jika kita merubah berarti kita telah melupakan tuntunan ajaran Islam.
  • Limbah ider-ideran atau sampah sisa dari kegiatan ider-ideran tercecer kemana-mana, bahkan sampai ke wilayah kota. Menurut beberapa orang pejabat pemerintah kota yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan bahwa inilah sampah dari orang kabupaten kalau memiliki hajat pemerintah kota hanya kebagian residunya saja.
  • Kemacetan Lalulintas. Kemacetan lalulintas akibat arah upacara Nadran itu berimbas ke wilayah kota dan jalur jalan Cirebon – Jakarta, Cirebon – Bandung. Secara otomatis akibat lumpuhnya jalur Cirebon – Indramayu selama lebih kurang 7 jam, volume kendaraan dialihkan ke jalur Cirebon – Jakarta, Cirebon – Bandung, jalan raya Kedawung menjadi macet total.

Sayang sekali kalau ritual yang begitu menghabiskan dana hingga ratusan juta itu harus tercabut dari akar budayanya. Para leluhur Cirebon di alam barzah pasti sedih melihat upacara nadran ini hanya tinggal keramaiannya saja, tanpa memberi makna yang cukup berarti bagi masyarakat Cirebon dan sekitarnya. Keprihatinan P. Panjijaya sebagai sesepuh keturunan Wargi Martasingha, R. Udin Khaenudin sebagai Ketua DBC (Dewan Budaya Cirebon) dan Hasanudin sebagai aparat pemerintahan desa Mertasingha, merupakan suatu protes terhadap keadaan yang semakin jauh dari tuntunan. Pihak-pihak yang memiliki tangan-tangan kokoh mestinya dapat mengembalikan upacara Nadran khususnya ider-ideran ke bentuk semula. Orang-orang yang memiliki sabda-sabda yang sakti juga seharusnya mengajak kepada aparat terkait untuk memperbaiki institusi budaya yang sudah berusia ratusan tahun ini supaya berjalan diatas rel yang seharusnya.

Kami hanya sekelompok orang lemah yang sama seperti masyarakat yang tinggal di bekas wilayah Kraton Singhapura (Kecamatan Suranenggala dan Kecamatan Gunungjati) hanya berharap di hati kecil kami agar pihak yang diberi kewenangan memerintah untuk bisa mengembalikan upacara adat ini sesuai dengan spirit awal yaitu syiar Islam, semangat kebersamaan dan semangat untuk memelihara sesama mahluk Allah dan lingkungan sekitar kami. (Penulis : Rafan S. Hasyim)

Comments

  1. Kesuwun

    ider2n hrsny d bagi 2 kategori,ktegori ank2 dan dewsa. krn bnyk jg kreatifits ank SD ikt srta d dlmny olh krn itu hrs mndpt apresiasi. dngn buget seadanya dr bhn limbah krts semn mrk bs menuangkn imajinasi bntuk hewn dan ank mcm bntk replika yg sngt mngesnkn. kbtln d desa sy wanakya ikt serta mmbuat replika ider2n sdh rmpung 70%. dan yg buat ank2 SD. trim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *